Dunit Sesar Bukit Butoh

Dunit Sesar Bukit Butoh

Dunit Sesar Bukit Butoh merupakan salah satu geosite penting dalam kawasan Geopark Matano di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Geosite ini tersusun oleh batuan dunit, yaitu batuan ultramafik yang berasal dari bagian mantel bumi dan didominasi mineral olivin. Batuan tersebut terangkat ke permukaan akibat aktivitas tektonik dan proses obduksi kerak samudra purba yang terjadi jutaan tahun lalu di Sulawesi Timur. Keberadaan batuan dunit di Bukit Butoh menjadi bukti penting bahwa kawasan Luwu Timur pernah mengalami dinamika geologi besar yang melibatkan tumbukan lempeng dan pengangkatan material mantel bumi ke permukaan. Secara geologis, Dunit Sesar Bukit Butoh berkaitan erat dengan sistem Sesar Matano yang merupakan salah satu sesar aktif utama di Pulau Sulawesi. Aktivitas sesar tersebut menyebabkan batuan ultramafik mengalami deformasi, rekahan, dan perpindahan posisi sehingga membentuk struktur geologi kompleks pada kawasan Bukit Butoh. Pada beberapa bagian singkapan batuan tampak zona hancuran dan bidang sesar yang menunjukkan adanya tekanan tektonik kuat pada masa lampau. Fenomena tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara batuan mantel bumi, aktivitas sesar, dan pembentukan bentang alam Danau Matano serta Sistem Danau Malili.

Dalam sejarah geologi Sulawesi, kawasan Bukit Butoh menjadi bagian dari kompleks ofiolit Sulawesi Timur yang dikenal sebagai salah satu kompleks ofiolit terbesar di dunia. Kompleks tersebut terbentuk dari kerak samudra dan bagian mantel bumi yang terdorong naik ke atas kerak benua akibat tumbukan lempeng tektonik. Para ahli geologi menyebut bahwa proses tersebut berlangsung sejak periode Kapur hingga Tersier dan membentuk bentang alam ultramafik khas di sekitar Danau Matano. Keberadaan batuan dunit pada Bukit Butoh membantu peneliti memahami proses pembentukan kerak bumi, evolusi tektonik Sulawesi, dan sejarah aktivitas sesar aktif di kawasan Luwu Timur. Selain memiliki nilai ilmiah, Bukit Butoh juga berkaitan dengan sejarah lingkungan dan identitas bentang alam masyarakat sekitar Danau Matano. Kawasan berbatu ultramafik ini sejak dahulu dikenal memiliki vegetasi khas akibat kandungan mineral tertentu pada tanah hasil pelapukan batuan dunit. Tanah ultramafik di kawasan ini memiliki kandungan magnesium, besi, dan nikel yang tinggi sehingga hanya jenis tumbuhan tertentu yang mampu tumbuh dengan baik. Keunikan bentang alam tersebut menjadikan Bukit Butoh sebagai salah satu kawasan geoheritage penting yang memperlihatkan hubungan antara geologi, ekosistem, dan sejarah alam Kabupaten Luwu Timur.

Pada perkembangan saat ini, Dunit Sesar Bukit Butoh ditetapkan sebagai salah satu geosite dalam pengembangan Geopark Matano dan Sistem Danau Malili. Kawasan ini memiliki potensi besar sebagai lokasi penelitian geologi, edukasi kebumian, dan wisata ilmiah karena memperlihatkan secara langsung singkapan batuan mantel bumi serta struktur sesar aktif. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur bersama tim Geopark Matano terus mendorong pelestarian kawasan ini sebagai bagian dari warisan geologi Sulawesi Selatan. Dengan pengelolaan yang baik, Dunit Sesar Bukit Butoh dapat menjadi laboratorium alam penting untuk memahami sejarah pembentukan bumi di Indonesia bagian timur.

Dunit Sesar Bukit Butoh

Dunit Sesar Bukit Butoh

Dunit adalah batuan beku ultramafik yang hampir seluruhnya terdiri dari mineral olivin (>90%) yang umumnya terbentuk di mantel bumi bagian atas. Dunit merupakan sumber utama nikel dan kromit. Komposisi mineral terdiri dari Ovilin (mineral utama), mineral aksesoris kromit, magnetit, piroksen (sangat sedikit), spinel, garnet, kadang sulfida, Silika rendah, tapi kaya magnesium (Mg) dan besi (Fe)

Lokasi ini terletak pada koordinat -2,527857 LS dan 121,342923 BT di Desa Magani Kecamatan Sorowako. Pada lokasi in terdapat tebing setinggi ± 20 m yang disusun oleh dunit dengan ciri-ciri antara lain: berwarna, kehijauan gelap, keras dan kompak, didominasi mineral olivine. Pada lokasi ini juga terdapat zona sesar yang ditandai dengan proses breksiasi, dapat pecah-pecah akibat adanya tekanan. Proses breksiasi membentuk breksi sesar dengan ciri-ciri monomik, fragmen dari dunit, bentuk menyudut – menyudut tanggung, ukuran fragmen rata rata 10 cm. massa dasar berupa pasir laterit, juga terdapat kekar-kekar yang terisi oleh mineral garnierite. Batas yang membatasi tubuh dunit dan breksi sesar membentuk sebuah bidang dengan arah : N20°E/73°. Pada lokasi ini tumbuh Nepenthes (Kantung Semar), anggrek (Vanda) endemik Luwu Timur, Anggrek Terestrial.

Dunit Sesar Bukit Butoh