No Results Found
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.
Buah Dengen, atau dikenal juga dengan nama latin Dillenia serrata, merupakan buah endemik yang tumbuh di Pulau Sulawesi, Indonesia.
Sumber Tulisan: http://www.tropicaltimber.info/specie/resak-vatica-rassak/#lower-content https://plantamor.com/species/profile/vatica/rassak
Sumber Gambar: Arboretum Koleksi Jenis Pohon Lokal dari Areal Konsesi PT. Vale Indonesia
Sumber Tulisan: https://plantamor.com/species/profile/stemonurus/celebicus#gsc.tab=0
Sumber Gambar: Arboretum Koleksi Jenis Pohon Lokal dari Areal Konsesi PT. Vale Indonesia
Di wilayah Desa Ussu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, terdapat salah satu fenomena geologi menarik berupa batuan travertine yang menjadi bagian dari lanskap kawasan Tompotikka. Travertine merupakan batuan sedimen kimia yang terbentuk dari hasil pengendapan mineral kalsium karbonat (CaCO₃) yang dibawa oleh air.
Secara fisik, travertine di daerah ini memiliki warna coklat krem dengan tekstur berlapis dan berpori. Struktur berlapis tersebut menunjukkan proses pembentukan yang terjadi secara bertahap dalam waktu yang cukup lama. Setiap lapisan mencerminkan fase pengendapan mineral dari air yang mengalir di atas permukaan batuan.
Salah satu ciri khas travertine Tompotikka adalah bentuknya yang menyerupai teras-teras alami. Teras ini terbentuk akibat aliran air yang mengendapkan mineral secara kontinu di sepanjang jalur alirannya. Air yang terlibat dalam proses ini umumnya jernih, mengandung mineral terlarut, terutama kalsium karbonat, yang kemudian mengendap saat terjadi perubahan kondisi lingkungan seperti suhu, tekanan, atau pelepasan karbon dioksida.
Berbeda dengan beberapa lokasi travertine lain yang berkaitan dengan aktivitas panas bumi (geothermal), travertine di Tompotikka tidak menunjukkan indikasi mata air panas atau aktivitas vulkanik aktif. Hal ini mengindikasikan bahwa pembentukannya kemungkinan besar berasal dari air tanah biasa (meteoric water) yang melarutkan batuan karbonat di bawah permukaan, kemudian mengendapkannya kembali saat muncul ke permukaan.
Dari sudut pandang geologi, keberadaan travertine ini menunjukkan bahwa di masa lalu—atau bahkan hingga saat ini—terdapat sistem aliran air yang cukup stabil dan kaya mineral. Proses ini berlangsung sangat lambat, namun konsisten, sehingga mampu membentuk struktur batuan yang unik dan estetis.
Dalam konteks edukasi geopark, travertine Tompotikka memiliki nilai penting karena:
Selain itu, struktur berpori dan berlapis pada travertine juga dapat menyimpan informasi lingkungan masa lalu, seperti perubahan debit air atau kondisi kimia air pada saat pembentukannya.
Secara keseluruhan, travertine Tompotikka bukan hanya sekadar batuan, tetapi merupakan arsip alami yang merekam proses geologi yang berlangsung dalam skala waktu panjang. Keberadaannya menjadi aset penting bagi pengembangan kawasan berbasis edukasi dan konservasi, khususnya dalam kerangka geopark di Luwu Timur.
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.
Terletak pada koordinat -2,810178 LS dan 120,968141 BT di Desa Harapan, Kecamatan Malili. Kekar merupakan rekahan atau retakan pada batuan yang terjadi akibat gaya tektonik (tekanan, tarikan, geser) atau proses pendinginan, tetapi tidak disertai dengan perpindahan yang signifikan di sepanjang bidang rekahan tersebut. rekahan pada batuan tanpa adanya pergeseran blok batuan. Terjadi karena batuan mengalami tekanan atau regangan melebihi kekuatannya. Umumnya muncul berulang atau berkelompok sehingga membentuk pola tertentu, perbedaan mendasar dengan sesar yakni pada pergeseran blok batuan
Di lokasi ini terdapat tebing batuan di tepi pantai setinggi ± 7 meter. Dengan panjang ± 20 meter. Bagian bawah terdiri dari alluvium/konglomerat dengan diameter rata-rata 20 cm, membundar sampai membundar tanggung akibat erosi/pelapukan. Pada lokasi ini tersingkap batuan peridotit yang tersenpentinitkan dengan ciri-ciri warna hijau kehitaman, keras dan kompak, butiran faneritik hingga porfiritik. Tubuh batuan ini dipenuhi kekar.
Mitos Nama “Bulu Poloe”
Ada beberapa mitos di kalangan masyarakat di Luwu Timur mengenai sejarah pulau terbelah ini. Konon kabarnya nama “Bulu Poloe” berasal dari sejarah Sawerigading. Sawerigading adalah seorang pangeran atau putra Raja Luwu bernama Batara Lattu. Suatu keti ka kapal Sawerigading terdampar di Teluk Bone dan patah menjadi dua bagian. Karena kecelakaan itu, tiang kapal rusak dan menjadi sebuah pulau bernama Bulu Poloe.
Ada juga mitos lain yang berkaitan dengan sejarah Bulupoloe yang mengatakan bahwa pulau itu berasal dari patahan gunung yang tertimpa pohon Welenreng. Sisa patahan pohon Welenreng akhirnya digunakan untuk membangun kapal-kapal yang digunakan oleh Sawerigading.
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.