Geosite Napal Formasi Bone-bone

Geosite Napal Formasi Bone-bone

Lokasi ini terletak pada koordinat -2.491471667 dan 120.7763983 di Desa Kalpataru Kecamatan Tomoni. Pada lokasi ini terdapat singkapan yang di dominasi oleh napal bagian dari Formasi Bone-bone.

Adapun lapisan-lapisan pembentuk singkapan ini dari tua ke muda, antara lain :

1. Batulempung, abu kebiruan, relative lebih keras, terdapat lensa-lensa gravel, moluska,
pemilahan buruk di lensesnya.

2. Batu lempung menyerpih, abu-abu kebiruan, leratif lebih lunak.

3. Batu lempung pasiran, massif, abu-abu kebiruan, relative lebih keras.

4. Batupasir , lempungan, halus hingga sedang, abu kebiruan, getas dan mudah diremas, non karbonatan, bagian bawah terdapat nodul2-nodule (karbonatan), jarang, berukuran Β± 10 cm, bagian atas terdapat fosil kayu, utuh dan pecah-pecah, relative melimpah. 23/OL/39A.Β 

5. Batupasir sangat halus, abu-abu kebiruan, non karbonatan, (karbonatan sedikit), pemilahan baik, membundar tanggung hingga membundar, terdiri dari mineral-mineral terang dan gelap, berstruktur silangsiur.

6. Batu lempung pasiran, abu-abu kebiruan, menyerpih, non karbonatan, lunak. 23/OL/39B.

7. Batupasir kasar, abu kebiruan, mudah diremas, pemilahan buruk, non karbonatan, terdiri dari mineral terang dan gelap, membundar tanggung hingga membundar. 23/OL/39C.

Geosite Hipostratotipe Formasi Bone-bone

Geosite Hipostratotipe Formasi Bone-bone

Terletak di Desa Kasintuwu Kecamatan Mangkutana dengan koordinat Latitude -2,381596667 dan Longitude 120.79703. Hipostratotipe merupakan istilah dalam stratigrafi yang digunakan untuk menyebut penampang tambahan selain stratotipe utama, yang dipilih untuk melengkapi deskripsi suatu satuan stratigrafi.

Hipostratotipe formasi adalah penampang atau singkapan tambahan yang dipilih untuk melengkapi stratotipe utama suatu formasi. Formasi juga dapat dikatakan satuan litostratigrafi dasar dalam stratigrafi yang memiliki ciri litologi khas, dapat dipetakan, dan diberi nama. Stratotipe utama merupakan singkapan resmi yang dipilih sebagai acuan utama untuk mendefinisikan formasi. Hipostratotipe dapat dipilih jika stratotipe utama tidak memperlihatkan keseluruhan ciri formasi, misalnya batas atas/bawah kurang jelas, variasi fasies tidak lengkap, atau data fosil terbatas.

Hipostratotipe Formasi Bone-bone merujuk pada lokasi singkapan batuan di Kecamatan Mangkutana dan sekitarnya yang menjadi bukti geologi untuk studi Formasi Bone-bone. Salah satu lokasi yang ditunjukkan adalah di dekat pantai Tobela, di mana ditemukan lapisan batugamping, batupasir, dan breksi monomik yang memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan pada masa pembentukannya.Β 

  • Hipostratotipe: dibaca hipostratotipe
  • Koordinat (Lat, Long) : -2.82, 121.12
  • Jenis Geologi : Referensi stratigrafi Formasi Bone-Bone
  • Geosite Hipostratotipe Formasi Bone-bone terletak di Desa Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana, pada koordinat -2,381596667 LS dan 120,79703 BT. Hipostratotipe adalah penampang tambahan yang digunakan untuk melengkapi deskripsi stratotipe utama suatu formasi, terutama jika stratotipe utama tidak memperlihatkan keseluruhan ciri formasi. Formasi Bone-bone merupakan satuan litostratigrafi yang memiliki ciri litologi khas, dapat dipetakan, dan diberi nama. Singkapan di lokasi ini memperlihatkan lapisan batugamping, batupasir, dan breksi monomik yang memberikan informasi penting tentang kondisi lingkungan pengendapan pada masa pembentukannya. Kehadiran fasies yang beragam menjadikan lokasi ini sebagai referensi tambahan untuk memahami variasi Formasi Bone-bone.
  • Nilai Penting Geosite
  • Geosite ini memiliki nilai ilmiah tinggi karena berfungsi sebagai hipostratotipe, yang melengkapi data stratigrafi dari stratotipe utama Formasi Bone-bone. Lokasi ini memungkinkan studi lebih mendalam tentang variasi fasies, batas stratigrafi, dan kondisi lingkungan purba. Dari perspektif geopark, geosite ini penting untuk edukasi tentang konsep stratigrafi, penentuan stratotipe, dan interpretasi sejarah geologi Sulawesi. Selain nilai ilmiah, keberadaan singkapan yang jelas dan mudah diakses menjadikannya ideal untuk kegiatan penelitian, praktikum lapangan, dan wisata edukasi berbasis geologi.

Geosite Travertine Tompotikka

Geosite Travertine Tompotikka

Di wilayah Desa Ussu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, terdapat salah satu fenomena geologi menarik berupa batuan travertine yang menjadi bagian dari lanskap kawasan Tompotikka. Travertine merupakan batuan sedimen kimia yang terbentuk dari hasil pengendapan mineral kalsium karbonat (CaCO₃) yang dibawa oleh air.

Secara fisik, travertine di daerah ini memiliki warna coklat krem dengan tekstur berlapis dan berpori. Struktur berlapis tersebut menunjukkan proses pembentukan yang terjadi secara bertahap dalam waktu yang cukup lama. Setiap lapisan mencerminkan fase pengendapan mineral dari air yang mengalir di atas permukaan batuan.

Salah satu ciri khas travertine Tompotikka adalah bentuknya yang menyerupai teras-teras alami. Teras ini terbentuk akibat aliran air yang mengendapkan mineral secara kontinu di sepanjang jalur alirannya. Air yang terlibat dalam proses ini umumnya jernih, mengandung mineral terlarut, terutama kalsium karbonat, yang kemudian mengendap saat terjadi perubahan kondisi lingkungan seperti suhu, tekanan, atau pelepasan karbon dioksida.

Berbeda dengan beberapa lokasi travertine lain yang berkaitan dengan aktivitas panas bumi (geothermal), travertine di Tompotikka tidak menunjukkan indikasi mata air panas atau aktivitas vulkanik aktif. Hal ini mengindikasikan bahwa pembentukannya kemungkinan besar berasal dari air tanah biasa (meteoric water) yang melarutkan batuan karbonat di bawah permukaan, kemudian mengendapkannya kembali saat muncul ke permukaan.

Dari sudut pandang geologi, keberadaan travertine ini menunjukkan bahwa di masa laluβ€”atau bahkan hingga saat iniβ€”terdapat sistem aliran air yang cukup stabil dan kaya mineral. Proses ini berlangsung sangat lambat, namun konsisten, sehingga mampu membentuk struktur batuan yang unik dan estetis.

Dalam konteks edukasi geopark, travertine Tompotikka memiliki nilai penting karena:

  • Menjadi contoh nyata proses sedimentasi kimia alami
  • Menunjukkan interaksi antara air, batuan, dan waktu
  • Memiliki nilai estetika tinggi sebagai lanskap geowisata
  • Dapat menjadi media pembelajaran tentang siklus geologi dan hidrologi

Selain itu, struktur berpori dan berlapis pada travertine juga dapat menyimpan informasi lingkungan masa lalu, seperti perubahan debit air atau kondisi kimia air pada saat pembentukannya.

Secara keseluruhan, travertine Tompotikka bukan hanya sekadar batuan, tetapi merupakan arsip alami yang merekam proses geologi yang berlangsung dalam skala waktu panjang. Keberadaannya menjadi aset penting bagi pengembangan kawasan berbasis edukasi dan konservasi, khususnya dalam kerangka geopark di Luwu Timur.

Narasi Bebatuan

  • Travertine: dibaca Travertin
  • Koordinat (Lat, Long) : -2.70, 121.25
  • Jenis Geologi : Endapan travertine karbonat sekunder
  • Travertine Tompotikka terletak di Desa Ussu, Kecamatan Malili, dengan koordinat -2,571125 LS dan 121,100205 BT. Travertine merupakan batu alam kategori batu kapur sedimen yang terbentuk dari endapan mineral di sekitar sumber air panas atau mata air. Keindahan travertine bukan hanya terletak pada tampilannya, tetapi juga pada cerita geologis yang dikandungnya. Setiap lapisan travertine adalah rekaman proses alam yang berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun, menjadikannya bukti nyata dinamika geologi di kawasan ini.
  • Karakteristik travertine yang berpori dan relatif lunak membuatnya mudah dipengaruhi oleh aliran air maupun aktivitas manusia. Oleh karena itu, kelestariannya sangat bergantung pada upaya konservasi yang berkelanjutan. Di lokasi ini juga terdapat Air Terjun Tompotikka, yang menjadi daya tarik utama. Air terjun ini terbagi menjadi empat aliran sungai dengan lebih dari sepuluh undakan. Setiap undakan terbentuk dari endapan larutan batu gamping yang kemungkinan berasal dari Formasi Matano, sehingga menambah nilai ilmiah dan estetika kawasan ini.

Baca juga : literatur geosite travertine tompotikka

Geosite Kekar Bulu’poloe

Geosite Kekar Bulu’poloe

Terletak pada koordinat -2,810178 LS dan 120,968141 BT di Desa Harapan, Kecamatan Malili. Kekar merupakan rekahan atau retakan pada batuan yang terjadi akibat gaya tektonik (tekanan, tarikan, geser) atau proses pendinginan, tetapi tidak disertai dengan perpindahan yang signifikan di sepanjang bidang rekahan tersebut. rekahan pada batuan tanpa adanya pergeseran blok batuan. Terjadi karena batuan mengalami tekanan atau regangan melebihi kekuatannya. Umumnya muncul berulang atau berkelompok sehingga membentuk pola tertentu, perbedaan mendasar dengan sesar yakni pada pergeseran blok batuan

Di lokasi ini terdapat tebing batuan di tepi pantai setinggiΒ Β± 7 meter. Dengan panjang Β± 20 meter. Bagian bawah terdiri dari alluvium/konglomerat dengan diameter rata-rata 20 cm, membundar sampai membundar tanggung akibat erosi/pelapukan. Pada lokasi ini tersingkap batuan peridotit yang tersenpentinitkan dengan ciri-ciri warna hijau kehitaman, keras dan kompak, butiran faneritik hingga porfiritik. Tubuh batuan ini dipenuhi kekar.Β 

Mitos Nama β€œBulu Poloe”

Ada beberapa mitos di kalangan masyarakat di Luwu Timur menΒ­genai sejarah pulau terbelah ini. Konon kabarnya nama β€œBulu PoΒ­loe” berasal dari sejarah SawerigaΒ­ding. Sawerigading adalah seorang pangeran atau putra Raja Luwu bernama Batara Lattu. Suatu ketiΒ­ ka kapal Sawerigading terdampar di Teluk Bone dan patah menjadi dua bagian. Karena kecelakaan itu, tiang kapal rusak dan menjadi seΒ­buah pulau bernama Bulu Poloe.

Ada juga mitos lain yang berΒ­kaitan dengan sejarah Bulupoloe yang mengatakan bahwa pulau itu berasal dari patahan gunung yang tertimpa pohon Welenreng. Sisa patahan pohon Welenreng akhirnΒ­ya digunakan untuk membangun kapal-kapal yang digunakan oleh Sawerigading.

Literatur kekar bulu' poloe

Napal Formasi Bone-bone

Napal Formasi Bone-bone

Napal Formasi Bone-bone menawarkan wawasan mendalam ke dalam sejarah bumi melalui formasi...

Galeri foto

Geosite Sesar Bulu’ Bellang

Geosite Sesar Bulu’ Bellang

Baca juga : literatur Geosite

Galeri foto

Geosite Rijang Berfoliasi Pantai Kupu-kupu Singkole

Geosite Rijang Berfoliasi Pantai Kupu-kupu Singkole

Terletak pada koordinat -2,506990 LS dan 121,324947 BT di Dusun Singkole, Desa Magani, Kecamatan Nuha. Rijang (chert) adalah batuan silika (kaya SiOβ‚‚, umumnya berupa mikrokristalin kuarsa) yang biasanya terbentuk dari endapan organisme mikroskopis bersilika (seperti radiolaria atau diatom), atau dari presipitasi silika di lingkungan laut dalam.Tersingkap batuan rijang dengan foliasi yang kemungkinan merupakan massa dasar dari Melange Wasuponda. Adapun ciri-ciri rijang ini antara lain: berwarna merah, keras, dan kompak, butiran sangat halus, berfoliasi, tekstur lepidoblast, terdapat rekahan-rekahan tipis yang terisi oleh kalsit berwarna putih.

Ciri khas dari rijang berfoliasi adalah tampilan berlapis sejajar atau memiliki bidang belahan yang konsisten arahnya, Warna umumnya merah, cokelat, abu-abu, atau hitam, tergantung kandungan oksida besi dan organik, Tekstur keras, rapuh, dan konkoidal, tapi dengan foliasi, ia bisa terbelah mengikuti bidang tekan. Rijang berfoliasi berarti batuan rijang yang menunjukkan struktur foliasi, yaitu adanya bidang perlapisan atau belahan sejajar akibat tekanan tektonik. Foliasi ini muncul karena tekanan dan deformasi tektonik menyebabkan mineral silika di dalam rijang tersusun sejajar, Rijang sering ikut terlipat atau mengalami deformasi bersama dengan batuan sedimen lain (misalnya di zona melange atau kompleks ofiolit), Foliasi bisa tampak berupa bidang rekahan sejajar, pita-pita tipis, atau lembaran yang mudah terkelupas

β™Ώ
Aksesibilitas