Objek Wisata Gua Bawah Air Kaebiri
KHDTK Malili Biodiversity Centre (MBC)
Your content goes here. Edit or remove this text inline or in the module Content settings. You can also style every aspect of this content in the module Design settings and even apply custom CSS to this text in the module Advanced settings.
Culturesite Kompleks Makam Temmalipa
Kompleks Makam Temmalipa merupakan salah satu situs budaya dan religi yang memiliki nilai historis penting di Kabupaten Luwu Timur. Situs ini menjadi tempat peristirahatan tokoh yang dihormati oleh masyarakat setempat, yang diyakini memiliki peran dalam sejarah lokal serta perkembangan nilai sosial dan budaya di wilayah tersebut.
Secara historis, keberadaan Kompleks Makam Temmalipa mencerminkan jejak kehidupan masa lalu yang berkaitan dengan tokoh berpengaruh dalam masyarakat. Situs ini menjadi bagian dari warisan sejarah yang terus dijaga dan diwariskan melalui tradisi lisan serta praktik budaya yang masih berlangsung hingga saat ini.
Dari perspektif budaya, kompleks makam ini memiliki nilai spiritual yang kuat. Aktivitas ziarah yang dilakukan oleh masyarakat mencerminkan bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus menjadi bagian dari tradisi yang memperkuat identitas budaya lokal. Interaksi antara masyarakat dengan situs ini menunjukkan hubungan yang erat antara nilai kepercayaan, sejarah, dan lingkungan.
Selain memiliki nilai historis dan spiritual, Kompleks Makam Temmalipa juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi. Pengunjung dapat mempelajari sejarah tokoh lokal, memahami tradisi yang berkembang, serta mengenal lebih jauh warisan budaya masyarakat Luwu Timur.
Dengan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang dimilikinya, Kompleks Makam Temmalipa merupakan culturesite penting yang perlu dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya bagi generasi mendatang.
Buaya Muara (Crocodylus porosus)
Buaya muara (Crocodylus porosus) adalah spesies buaya yang mendiami habitat air asin, lahan basah air payau, dan sungai air tawar mulai dari pantai timur India melintasi Asia Tenggara dan Sundaland hingga Australia bagian utara dan Mikronesia. Spesies ini telah terdaftar sebagai spesies Risiko Rendah (Least Concern) dalam Daftar Merah IUCN sejak tahun 1996.[2] Hewan ini diburu untuk diambil kulitnya di seluruh wilayah sebarannya hingga tahun 1970-an, dan kini terancam oleh pembunuhan ilegal serta hilangnya habitat. Ia dianggap berbahaya bagi manusia.[4]
Buaya muara merupakan reptil terbesar yang masih hidup.[5] Pejantan dapat tumbuh hingga mencapai berat 1.000–1.500 kg (2.200–3.300 pon) dan panjang 6 m (20 ft), namun jarang melebihi 63 m (207 ft).[6][7] Betina berukuran jauh lebih kecil dan jarang melampaui 3 m (9,8 ft).[8][9] Hewan ini juga dikenal dengan nama buaya estuarin, buaya Indo-Pasifik, buaya laut, dan secara informal disebut saltie.[10] Sebagai pemangsa puncak hiperkarnivora yang besar dan oportunistik, mereka menyergap sebagian besar mangsanya lalu menenggelamkan atau menelannya bulat-bulat. Mereka akan memangsa hampir semua hewan yang memasuki wilayahnya, termasuk predator lain seperti hiu, berbagai jenis ikan air tawar dan ikan air asin termasuk spesies pelagis, invertebrata seperti krustasea, berbagai amfibi, reptil lain, burung, dan mamalia.[11][12]
Crocodilus porosus adalah nama ilmiah yang diusulkan oleh Johann Gottlob Theaenus Schneider yang mendeskripsikan sebuah spesimen zoologi pada tahun 1801.[13] Pada abad ke-19 dan ke-20, beberapa spesimen buaya muara dideskripsikan dengan nama-nama berikut:
- Crocodilus biporcatus yang diusulkan oleh Georges Cuvier pada tahun 1807 merujuk pada 23 spesimen buaya muara dari India, Jawa, dan Timor.[14]
- Crocodilus biporcatus raninus yang diusulkan oleh Salomon Müller dan Hermann Schlegel pada tahun 1844 adalah seekor buaya dari Kalimantan.[15]
- Crocodylus porosus australis yang diusulkan oleh Paulus Edward Pieris Deraniyagala pada tahun 1953 adalah sebuah spesimen dari Australia.[16]
- Crocodylus pethericki yang diusulkan oleh Richard Wells dan C. Ross Wellington pada tahun 1985 adalah spesimen buaya bertubuh besar, berkepala relatif besar, dan berekor pendek yang dikumpulkan pada tahun 1979 di Sungai Finnis, Wilayah Utara.[17] Spesies yang diklaim ini kemudian dianggap sebagai salah tafsir atas perubahan fisiologis yang dialami buaya jantan berukuran sangat besar. Namun, pernyataan Wells dan Wellington bahwa buaya muara Australia mungkin cukup berbeda dari buaya muara Asia hingga layak mendapatkan status subspesies dianggap memiliki validitas.[18]
Saat ini, buaya muara dianggap sebagai spesies monotipik.