Ikan Opudi (Telmatherina celebensis)

Ikan Opudi (Telmatherina celebensis)

Ikan Opudi (Telmatherina celebensis) merupakan spesies ikan air tawar yang bersifat endemik. Bagi orang asinga, ikan Opudi seringa disebut celebes rainbowfish. Pada perairan air tawar, Ikan Opudi hidup di wilayah danau. Dapat dikatakan Ikan Opudi merupakan Ikan endemik di  pulau Sulawesi.

Opudi (Telmatherina celebensis) adalah hewan yang banyak ditemui di lima danau yang terletak di pertengahan Sulawesi, yakni Danau Mahalona, Danau Wawantoa, Danau Matano, Danau Masapi, dan Danau Towuti. Bentuknya yang unik membuat banyak orang tertarik untuk memelihara Opudi, tanpa peduli bahwa status Opudi saat ini adalah “terancam punah”. Terutama dengan maraknya pembalakan liar dan “campur tangan manusia” yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir ini.

Konon, dulu, Opudi sangat mudah ditemukan di tepi danau. Mereka sering ditemukan berenang di sela-sela akar mangrove. Namun, sayangnya, letak Opudi “bergeser” ke tengah setelah perumahan apung (di atas danau) mulai dibangun, lalu masyarakat mulai memanfaatkan kolong rumah apung sebagai arena tambak.

 

Sumber tulisan: https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/ikan-opudi/ https://budaya-indonesia.org/Ikan-Opudi-Ikan-Endemik-Sulawesi-Selatan/

Sumber gambar: https://sulawesikeepers.org/id/ikan-endemik-air-tawar-di-sulawesi/

Ikan Butini (Glossogobius matanensis)

Ikan Butini (Glossogobius matanensis)

Ikan butini atau Glossogobius matanensis adalah omnivora, yang berarti mereka mengonsumsi berbagai jenis bahan organik, baik tumbuhan maupun hewan. Ikan Butini adalah ikan endemik yang berasal dari danau purba di Pulau Sulawesi, yaitu Danau Towuti dan Danau Matano. Seperti banyak ikan yang hidup di perairan payau, ikan butini memiliki aktivitas makan yang lebih aktif pada malam hari (nokturnal).

Hal ini memungkinkan mereka untuk mencari makanan di waktu yang lebih tenang, ketika mereka juga lebih aman dari predator. Ikan butini dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungan yang memiliki fluktuasi salinitas yang tinggi, yaitu di daerah muara dan pesisir dengan kadar garam yang bervariasi. Ikan butini berperan penting dalam proses pemecahan bahan organik di perairan, membantu menjaga kualitas air dan memelihara keseimbangan ekosistem pesisir.

Berbagai aktivitas yang dilakukan di perairan ini diperkirakan menyebabkan penurunan populasi ikan Butini. 

Ukuran ikan butini terpanjang (46,20 cm) adalah ikan jantan, ditemukan di kedalaman 150 m. Pola pertumbuhan Von Bertalanffy ikan butini gabungan yaitu L(t)= 46,62 [1 – e-1,200(t-to)], jantan dan betina masing-masing adalah L(t) =46,62 [1 – e-0,950(t-to)] danL(t)= 46,62 [1 – e-0,820(t-to)]. Mortalitas total tertinggi dijumpai di Zona B (5,49 per tahun) pada ikan betina.

Sumber: https://jagatsatwanusantara.id/satwa/ikan-butini/ https://data.go.id/dataset/dataset/pertumbuhan-dan-mortalitas-ikan-endemik-butini-glossogobius-matanensis-weber-1913-di-danau-towu

 

Culturesite Bangkai Kapal Jepang

Culturesite Bangkai Kapal Jepang

Bangkai kapal Jepang yang terletak di Sungai Malili, Kabupaten Luwu Timur, merupakan salah satu situs sejarah penting yang merepresentasikan jejak aktivitas militer dan pergerakan logistik pada masa Perang Dunia II di wilayah Sulawesi. Kapal ini diyakini merupakan peninggalan armada Jepang yang beroperasi di kawasan strategis Teluk Bone dan jalur perairan Malili, yang pada masa itu memiliki peran penting sebagai jalur transportasi dan distribusi sumber daya alam.

Secara fisik, struktur kapal yang kini telah mengalami korosi dan sebagian tenggelam menjadi artefak sejarah yang menyatu dengan lingkungan sungai. Material besi yang tersisa menunjukkan karakteristik konstruksi kapal militer era perang, sekaligus memperlihatkan proses degradasi alami akibat pengaruh air, oksidasi, dan sedimentasi dalam jangka waktu panjang.

Dari perspektif budaya, bangkai kapal ini tidak hanya menjadi bukti sejarah kolonial Jepang di Indonesia, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat lokal. Keberadaannya sering dikaitkan dengan cerita rakyat, narasi sejarah lisan, serta menjadi simbol pengingat akan dinamika masa lalu yang membentuk identitas kawasan Malili.

Selain nilai historis, situs ini memiliki potensi sebagai objek edukasi dan wisata budaya. Pengunjung dapat mempelajari hubungan antara sejarah global Perang Dunia II dengan konteks lokal Luwu Timur, sekaligus mengamati interaksi antara warisan budaya dan proses alam yang berlangsung secara bersamaan.

Dengan demikian, Bangkai Kapal Jepang di Sungai Malili merupakan culturesite yang memiliki nilai penting dari aspek sejarah, edukasi, dan pelestarian, serta berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis warisan budaya yang berkelanjutan.

Kayu Hitam / Eboni (Diospyros celebica)

Kayu Hitam / Eboni (Diospyros celebica)

EBONI (Diospyros celebica Bakh), merupakan salah satu jenis kayu anggota famili Ebenaceae. Pohon eboni juga dikenal sebagai kayu hitam karena memiliki teras kayu berwarna hitam dengan garis-garis merah-cokelat. Nama Celebia tentu saja merujuk pada Celebes atau Celebes yang berarti Sulawesi. Karena itu eboni adalah kayu endemik kepulauan ini.

Ada beberapa jenis pohon serupa yang termasuk dalam klasifikasi kayu eboni, yakni: Diospyros ebeum Koen, Diospyros macrohylla Bl, Diospyros pilosanthera Blanco, Diospyros ferea Bakh, Diospyros tolin Bakh, dan Diospyros rumphii Bakh. Hampir semua jenis pohon tersebut mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, namun jenis Diospyros celebicaBakh memiliki persebaran terbatas, hanya di hutan-hutan Sulawesi.

Pohon eboni bisa tumbuh mencapai tinggi 40 meter dengan diameter 1 meter. Tajuknya berbentuk silindris hingga kerucut dan percabangannya agak leteral dan kokoh. Sedangkan sistem perakarannya sangat dalam, luas, dan intensif. Kulit luar berwarna hitam dan mengelupas kecil-kecil sejalan dengan bertambah umur pohon. Buahnya berdaging dan bunganya berukuran kecil.

Buah eboni matang secara fisiologi sekitar bulan November dan Desember. Biji Eboni yang sehat ditandai dengan warnanya yang cokelat kehitaman dan memiliki radikel berwarna kuning kecokelatan. Karena sifatnya yang rekalsitran, biji Eboni tidak bisa disimpan dalam kurun waktu lama.

 Sumber: https://www.forestdigest.com/detail/1081/konservasi-eboni-kayu-langka-dari-sulawesi

Babi Rusa (Babyrousa celebensis)

Babi Rusa (Babyrousa celebensis)

Babirusa sulawesi merupakan kelompok mamalia dalam keluarga Suidae. Panjang babirusa dapat mencapat 1 m dengan tinggi sekitar 65-80 cm dan berat dapat mencapai 90 kg. Tubuhnya lebih terlihat berwarna putih dengan rambut yang jarang dibandingkan babi-hutan sulawesi. Babirusa juga dikenal dengan dua pasang gigi taringnya yang mencuat membesar, melengkung dan menembus ke atas. Bahkan individu jantan memiliki gigi taring atas yang melengkung menembus rahang atasnya.

Babirusa sulawesi merupakan endemik Sulawesi yang tersebar di suluruh Sulawesi kecuali bagian semenanjung selatan. Di sebagian Sulawesi Utara, Buton dan Muna diperkirakan sudah punah secara lokal. Populasi globalnya di seluruh sulawesi diperkirakan mengalami penurunan dengan besar populasi diperkirakan tidak lebih dari 10.000 individu dewasa. Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan salah satu kawasan konservasi terpenting untuk melindungi jenis ini. Mereka dapat dijumpai hampir di semua wilayah berhutan kawasan ini. Lokasi-lokasi kubangan dan salt-lick mereka banyak tersebar di dalam kawasan ini, dari yang kecil sampai yang komunal.

Babirusa sulawesi hanya dapat dijumpai di hutan-hutan primer sulawesi dataran rendah dan pegunungan. Mereka hidup berkelompok, baik kelompok kecil jantan betina dan 2-3 anak sampai kelompok besar. Biasa mengunjungi kubangan lumpur ataupun daerah salt-lick untuk meminum air bergaram sebagai kebutuhan mineral. Babirusa dikenal sebagai satwa omnivora, mengkonsumsi berbagai daun, akar, buah hutan, dan beragam satwa kecil (invertebrata dan vertebrata).

 

SUMBER:

https://www.boganinaniwartabone.org/portal/artikeldetail/S0VVMTgwMDEyMDIwMDQwMzAxNDgxOTI=/BABIRUSA%20SULAWESI.html

♿
Aksesibilitas