Air Terjun Mata Dewa

Ummul Haerah   |   May 13, 2026   |   Warisan Geologi
-2.772528, 121.542139
Koordinat
± 8 ha
Luas Area
Desa Loeha, Kec. Kecamatan Towuti
Lokasi
Geosite Geopark Matano & kawasan wisata alam
Status

Air Terjun Mata Dewa

Merupakan salah satu geosite dan destinasi wisata alam yang berada di kawasan Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Air terjun ini berada di wilayah Desa Loeha dan termasuk dalam kawasan pengembangan Geopark Matano dan Sistem Danau Malili. Nama “Mata Dewa” berasal dari penyebutan masyarakat lokal yang mengaitkan kejernihan sumber air dan suasana alam di kawasan tersebut dengan tempat yang dianggap sakral dan memiliki nilai spiritual. Keberadaan air terjun ini telah lama dikenal masyarakat sekitar Danau Towuti sebagai sumber air alami sekaligus kawasan yang memiliki keindahan alam khas pegunungan dan hutan tropis Luwu Timur.

Secara geologis, Air Terjun Mata Dewa terbentuk akibat proses erosi aliran sungai yang memotong batuan di kawasan pegunungan sekitar Danau Towuti selama jutaan tahun. Aktivitas tektonik yang membentuk bentang alam Sulawesi Timur menyebabkan wilayah Towuti memiliki relief terjal dengan banyak aliran sungai dan air terjun alami. Aliran air yang jatuh dari ketinggian kemudian membentuk kolam alami dan undakan batuan yang menjadi ciri khas kawasan Mata Dewa. Proses geomorfologi tersebut menjadikan air terjun ini sebagai bagian penting dari keragaman geologi Geopark Matano yang memperlihatkan hubungan antara struktur batuan, aliran air, dan pembentukan lanskap alam. Dalam sejarah masyarakat lokal, kawasan Mata Dewa telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar Loeha dan Towuti sebagai tempat persinggahan serta sumber air bagi aktivitas sehari-hari. Kawasan ini juga berkaitan dengan jalur transportasi tradisional masyarakat pesisir Danau Towuti yang menggunakan perahu untuk menghubungkan desa-desa di sekitar danau. Beberapa catatan perjalanan wisata lama menyebutkan bahwa akses menuju Mata Dewa dahulu harus dilakukan dengan menyeberangi Danau Towuti menggunakan perahu ketinting dari wilayah Timampu menuju Desa Loeha. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan air terjun ini telah dikenal sejak lama sebagai salah satu tujuan alam di kawasan Towuti.

Selain memiliki nilai sejarah dan geologi, Air Terjun Mata Dewa juga memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan kawasan hutan sekitar Danau Towuti. Air terjun ini berada pada wilayah yang masih memiliki tutupan vegetasi alami sehingga mendukung keberadaan ekosistem hutan tropis dan sumber mata air pegunungan. Dalam dokumen pengembangan Geopark Matano, kawasan Mata Dewa termasuk salah satu geosite yang memiliki potensi konservasi dan edukasi lingkungan karena memperlihatkan keunikan bentang alam alami yang masih terjaga. Keberadaan kawasan ini juga mendukung pengembangan wisata berbasis alam dan konservasi di Kabupaten Luwu Timur.

Pada perkembangan saat ini, Air Terjun Mata Dewa menjadi salah satu destinasi wisata alam yang mulai dikenal masyarakat luas di Luwu Timur. Keindahan aliran air, suasana hutan yang masih alami, dan lokasi yang berada di sekitar sistem Danau Towuti menjadikan kawasan ini menarik bagi wisatawan maupun peneliti. Pemerintah daerah juga memasukkan Mata Dewa sebagai bagian dari daftar objek wisata unggulan Kabupaten Luwu Timur dan geosite Geopark Matano. Dengan pengelolaan yang baik, kawasan ini berpotensi berkembang sebagai wisata edukasi geologi, konservasi lingkungan, dan wisata petualangan berbasis alam di Sulawesi Selatan.

Aksesibilitas

Perjalanan dimulai dari Kota Malili menuju Kecamatan Towuti melalui jalan poros Malili–Towuti. Dari wilayah Timampu atau dermaga sekitar Danau Towuti, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Loeha menggunakan perahu atau transportasi danau. Setelah tiba di Desa Loeha, perjalanan menuju Air Terjun Mata Dewa dapat dilanjutkan menggunakan kendaraan roda dua maupun berjalan kaki menuju kawasan air terjun. Jalur menuju lokasi berupa jalan setapak, bebatuan, dan kawasan hutan dengan beberapa tanjakan ringan. Waktu terbaik berkunjung adalah musim kemarau agar kondisi jalur lebih aman dan penyeberangan danau lebih nyaman. Pengunjung disarankan menggunakan perlengkapan yang sesuai karena beberapa bagian jalur cukup licin saat musim hujan. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, pengunjung dapat menikmati panorama Danau Towuti, hutan tropis, dan bentang alam pegunungan khas Towuti