Napal Formasi Bone-bone

Napal Formasi Bone-bone

Geosite ini memiliki nilai ilmiah tinggi karena memberikan informasi stratigrafi yang lengkap tentang Formasi Bone-bone, termasuk variasi fasies, kandungan fosil, dan ciri litologi yang penting untuk interpretasi lingkungan purba. Kehadiran napal dan batupasir berstruktur silang-siur menunjukkan pengaruh proses marin dan fluvial, menjadikannya lokasi ideal untuk studi evolusi cekungan sedimen Sulawesi. Dari perspektif geopark, geosite ini memiliki nilai edukasi karena dapat digunakan untuk menjelaskan konsep stratigrafi, urutan sedimen, dan kaitannya dengan perubahan lingkungan geologi. Selain itu, keberadaan fosil kayu dan moluska menambah nilai paleontologi yang menarik untuk pengembangan wisata ilmiah.

Jenis Geologi : Singkapan napal Formasi Bone-Bone

Geosite Napal Formasi Bone-bone terletak di Desa Kalpataru, Kecamatan Tomoni, pada koordinat -2,491471667 LS dan 120,7763983 BT. Lokasi ini menampilkan singkapan yang didominasi oleh napal, bagian dari Formasi Bone-bone, dengan lapisan-lapisan sedimen yang tersusun dari tua ke muda.

Urutannya meliputi: (1) batulempung abu kebiruan dengan lensa gravel dan moluska, (2) batulempung menyerpih abu-abu kebiruan, (3) batulempung pasiran massif, (4) batupasir lempungan halus hingga sedang dengan nodul karbonatan dan fosil kayu, (5) batupasir sangat halus berstruktur silang-siur, (6) batulempung pasiran menyerpih, dan (7) batupasir kasar dengan pemilahan buruk. Kehadiran fosil kayu dan moluska menunjukkan lingkungan pengendapan laut dangkal hingga transisi darat, sedangkan variasi litologi mencerminkan dinamika sedimentasi Formasi Bone-bone.

Struktur batuan pada Napal Formasi Bone-bone didominasi oleh batuan sedimen berupa napal yang tersusun berlapis-lapis dengan ketebalan lapisan sekitar 1–15 cm. Lapisan tersebut terbentuk dari proses pengendapan material halus seperti lempung dan karbonat di lingkungan laut purba yang tenang. Struktur perlapisan yang jelas menunjukkan perubahan kondisi sedimentasi yang berlangsung secara bertahap dalam waktu geologi yang panjang.

Hipostratotipe Formasi Bone-bone

Hipostratotipe Formasi Bone-bone

Hipostratotipe Formasi Bone-bone merujuk pada lokasi singkapan batuan di Kecamatan Mangkutana dan sekitarnya yang menjadi bukti geologi untuk studi Formasi Bone-bone. Salah satu lokasi yang ditunjukkan adalah di dekat pantai Tobela, di mana ditemukan lapisan batugamping, batupasir, dan breksi monomik yang memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan pada masa pembentukannya.

Geosite ini memiliki nilai ilmiah tinggi karena berfungsi sebagai hipostratotipe, yang melengkapi data stratigrafi dari stratotipe utama Formasi Bone-bone. Lokasi ini memungkinkan studi lebih mendalam tentang variasi fasies, batas stratigrafi, dan kondisi lingkungan purba. Dari perspektif geopark, geosite ini penting untuk edukasi tentang konsep stratigrafi, penentuan stratotipe, dan interpretasi sejarah geologi Sulawesi. Selain nilai ilmiah, keberadaan singkapan yang jelas dan mudah diakses menjadikannya ideal untuk kegiatan penelitian, praktikum lapangan, dan wisata edukasi berbasis geologi. 

Terletak di Desa Kasintuwu Kecamatan Mangkutana dengan koordinat Latitude -2,381596667 dan Longitude 120.79703. Hipostratotipe merupakan istilah dalam stratigrafi yang digunakan untuk menyebut penampang tambahan selain stratotipe utama, yang dipilih untuk melengkapi deskripsi suatu satuan stratigrafi.

Hipostratotipe formasi adalah penampang atau singkapan tambahan yang dipilih untuk melengkapi stratotipe utama suatu formasi. Formasi juga dapat dikatakan satuan litostratigrafi dasar dalam stratigrafi yang memiliki ciri litologi khas, dapat dipetakan, dan diberi nama. Stratotipe utama merupakan singkapan resmi yang dipilih sebagai acuan utama untuk mendefinisikan formasi. Hipostratotipe dapat dipilih jika stratotipe utama tidak memperlihatkan keseluruhan ciri formasi, misalnya batas atas/bawah kurang jelas, variasi fasies tidak lengkap, atau data fosil terbatas.

Jenis Geologi : Referensi stratigrafi Formasi Bone-Bone

Geosite Hipostratotipe Formasi Bone-bone terletak di Desa Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana, pada koordinat -2,381596667 LS dan 120,79703 BT. Hipostratotipe adalah penampang tambahan yang digunakan untuk melengkapi deskripsi stratotipe utama suatu formasi, terutama jika stratotipe utama tidak memperlihatkan keseluruhan ciri formasi. Formasi Bone-bone merupakan satuan litostratigrafi yang memiliki ciri litologi khas, dapat dipetakan, dan diberi nama. Singkapan di lokasi ini memperlihatkan lapisan batugamping, batupasir, dan breksi monomik yang memberikan informasi penting tentang kondisi lingkungan pengendapan pada masa pembentukannya. Kehadiran fasies yang beragam menjadikan lokasi ini sebagai referensi tambahan untuk memahami variasi Formasi Bone-bone.

Travertine Tompotikka

Travertine Tompotikka

Di wilayah Desa Ussu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, terdapat salah satu fenomena geologi menarik berupa batuan travertine yang menjadi bagian dari lanskap kawasan Tompotikka. Travertine merupakan batuan sedimen kimia yang terbentuk dari hasil pengendapan mineral kalsium karbonat (CaCO₃) yang dibawa oleh air.

Secara fisik, travertine di daerah ini memiliki warna coklat krem dengan tekstur berlapis dan berpori. Struktur berlapis tersebut menunjukkan proses pembentukan yang terjadi secara bertahap dalam waktu yang cukup lama. Setiap lapisan mencerminkan fase pengendapan mineral dari air yang mengalir di atas permukaan batuan.

Salah satu ciri khas travertine Tompotikka adalah bentuknya yang menyerupai teras-teras alami. Teras ini terbentuk akibat aliran air yang mengendapkan mineral secara kontinu di sepanjang jalur alirannya. Air yang terlibat dalam proses ini umumnya jernih, mengandung mineral terlarut, terutama kalsium karbonat, yang kemudian mengendap saat terjadi perubahan kondisi lingkungan seperti suhu, tekanan, atau pelepasan karbon dioksida.

Berbeda dengan beberapa lokasi travertine lain yang berkaitan dengan aktivitas panas bumi (geothermal), travertine di Tompotikka tidak menunjukkan indikasi mata air panas atau aktivitas vulkanik aktif. Hal ini mengindikasikan bahwa pembentukannya kemungkinan besar berasal dari air tanah biasa (meteoric water) yang melarutkan batuan karbonat di bawah permukaan, kemudian mengendapkannya kembali saat muncul ke permukaan.

Dari sudut pandang geologi, keberadaan travertine ini menunjukkan bahwa di masa lalu—atau bahkan hingga saat ini—terdapat sistem aliran air yang cukup stabil dan kaya mineral. Proses ini berlangsung sangat lambat, namun konsisten, sehingga mampu membentuk struktur batuan yang unik dan estetis.

Dalam konteks edukasi geopark, travertine Tompotikka memiliki nilai penting karena:

  1. Jadi contoh nyata proses sedimentasi kimia alami
  2. Menunjukkan interaksi antara air, batuan, dan waktu
  3. Memiliki nilai estetika tinggi sebagai lanskap geowisata
  4. Menjadi media pembelajaran tentang siklus geologi dan hidrologi.

Selain itu, struktur berpori dan berlapis pada travertine juga dapat menyimpan informasi lingkungan masa lalu, seperti perubahan debit air atau kondisi kimia air pada saat pembentukannya.

Secara keseluruhan, travertine Tompotikka bukan hanya sekadar batuan, tetapi merupakan arsip alami yang merekam proses geologi yang berlangsung dalam skala waktu panjang. Keberadaannya menjadi aset penting bagi pengembangan kawasan berbasis edukasi dan konservasi, khususnya dalam kerangka geopark di Luwu Timur.

Travertine Tompotikka terletak di Desa Ussu, Kecamatan Malili, dengan koordinat -2,571125 LS dan 121,100205 BT. Travertine merupakan batu alam kategori batu kapur sedimen yang terbentuk dari endapan mineral di sekitar sumber air panas atau mata air. Keindahan travertine bukan hanya terletak pada tampilannya, tetapi juga pada cerita geologis yang dikandungnya. Setiap lapisan travertine adalah rekaman proses alam yang berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun, menjadikannya bukti nyata dinamika geologi di kawasan ini.

Karakteristik travertine yang berpori dan relatif lunak membuatnya mudah dipengaruhi oleh aliran air maupun aktivitas manusia. Oleh karena itu, kelestariannya sangat bergantung pada upaya konservasi yang berkelanjutan. Di lokasi ini juga terdapat Air Terjun Tompotikka, yang menjadi daya tarik utama. Air terjun ini terbagi menjadi empat aliran sungai dengan lebih dari sepuluh undakan. Setiap undakan terbentuk dari endapan larutan batu gamping yang kemungkinan berasal dari Formasi Matano, sehingga menambah nilai ilmiah dan estetika kawasan ini.

Baca juga : literatur geosite travertine tompotikka

Kekar Bulu’ Poloe

Kekar Bulu’ Poloe

Bulu Poloe merupakan sebuah pulau kecil yang berada di wilayah Teluk Bone dan termasuk dalam administrasi Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur. Nama “Bulu Poloe” berasal dari bahasa Bugis yang berarti “gunung terbelah” atau “gunung yang terpotong”. Nama tersebut muncul karena bentuk pulau yang tampak seperti gunung yang terbelah di bagian tengahnya.

Dalam sejarah dan cerita rakyat masyarakat Luwu, Bulu Poloe sangat erat kaitannya dengan kisah epik Sawerigading, tokoh legendaris Kerajaan Luwu dalam naskah I La Galigo. Menurut mitos yang berkembang, kapal milik Sawerigading pernah terdampar di Teluk Bone dan patah menjadi dua bagian. Potongan atau tiang kapal tersebut dipercaya berubah menjadi pulau yang kini dikenal sebagai Bulu Poloe. Cerita ini menjadi bagian penting dari tradisi lisan masyarakat Luwu Timur hingga sekarang. 

Terletak pada koordinat -2,810178 LS dan 120,968141 BT di Desa Harapan, Kecamatan Malili. Kekar merupakan rekahan atau retakan pada batuan yang terjadi akibat gaya tektonik (tekanan, tarikan, geser) atau proses pendinginan, tetapi tidak disertai dengan perpindahan yang signifikan di sepanjang bidang rekahan tersebut. rekahan pada batuan tanpa adanya pergeseran blok batuan.

Terjadi karena batuan mengalami tekanan atau regangan melebihi kekuatannya. Umumnya muncul berulang atau berkelompok sehingga membentuk pola tertentu, perbedaan mendasar dengan sesar yakni pada pergeseran blok batuan

Di lokasi ini terdapat tebing batuan di tepi pantai setinggi ± 7 meter. Dengan panjang ± 20 meter. Bagian bawah terdiri dari alluvium/konglomerat dengan diameter rata-rata 20 cm, membundar sampai membundar tanggung akibat erosi/pelapukan. Pada lokasi ini tersingkap batuan peridotit yang tersenpentinitkan dengan ciri-ciri warna hijau kehitaman, keras dan kompak, butiran faneritik hingga porfiritik. Tubuh batuan ini dipenuhi kekar. 

Mitos Nama “Bulu Poloe”

Ada beberapa mitos di kalangan masyarakat di Luwu Timur men­genai sejarah pulau terbelah ini. Konon kabarnya nama “Bulu Po­loe” berasal dari sejarah Saweriga­ding. Sawerigading adalah seorang pangeran atau putra Raja Luwu bernama Batara Lattu. Suatu keti­ ka kapal Sawerigading terdampar di Teluk Bone dan patah menjadi dua bagian. Karena kecelakaan itu, tiang kapal rusak dan menjadi se­buah pulau bernama Bulu Poloe.

Koordinat (Lat, Long) : -2.61, 121.38

Jenis Geologi : Struktur kekar pada ultramafik

Kekar Bulu Poloe terletak di Desa Harapan, Kecamatan Malili, dengan koordinat -2,810178 LS dan 120,968141 BT. Kekar merupakan rekahan atau retakan pada batuan yang terjadi akibat gaya tektonik (tekanan, tarikan, atau geseran) maupun proses pendinginan, tetapi tidak disertai dengan perpindahan signifikan di sepanjang bidang rekahan tersebut. Berbeda dengan sesar, kekar tidak menunjukkan pergeseran blok batuan. Kekar terbentuk ketika batuan mengalami tekanan atau regangan yang melebihi kekuatannya, sehingga retakan muncul berulang atau berkelompok dan membentuk pola tertentu.

Di lokasi ini terdapat tebing batuan di tepi pantai dengan tinggi sekitar 7 meter dan panjang ± 20 meter. Bagian bawah tebing tersusun oleh endapan alluvium atau konglomerat dengan diameter rata-rata 20 cm, berbentuk membundar hingga membundar tanggung akibat proses erosi dan pelapukan. Pada bagian atas tersingkap batuan peridotit yang telah terserpentinitkan, dengan ciri warna hijau kehitaman, keras dan kompak, serta bertekstur faneritik hingga porfiritik. Tubuh batuan ini dipenuhi oleh kekar yang menjadi ciri khas geosite ini.

Literatur kekar bulu' poloe

Napal Formasi Bone-bone

Napal Formasi Bone-bone

Napal Formasi Bone-bone menawarkan wawasan mendalam ke dalam sejarah bumi melalui formasi...

Sesar Bulu’ Bellang

Sesar Bulu’ Bellang

Struktur batuan di Bulu Bellang menunjukkan karakter geologi perbukitan yang terbentuk oleh proses tektonik dan sedimentasi yang berlangsung dalam waktu sangat panjang. Kawasan ini berada dalam zona geologi Sulawesi Timur yang dikenal kompleks karena dipengaruhi aktivitas patahan, pengangkatan kerak bumi, dan proses pelapukan tropis. Batuan yang tersingkap di daerah ini umumnya memperlihatkan rekahan, bidang perlapisan, serta struktur deformasi akibat tekanan tektonik regional.

Secara morfologi, batuan di Bulu Bellang didominasi oleh batuan keras yang membentuk lereng curam dan punggungan bukit. Pada beberapa bagian terlihat struktur perlapisan batuan sedimen yang tersusun secara berulang dengan ketebalan bervariasi. Perlapisan tersebut menunjukkan proses pengendapan material pada lingkungan purba, kemungkinan berasal dari sedimentasi laut dangkal hingga lingkungan transisi daratan. Bidang-bidang lapisan yang miring juga mengindikasikan adanya gaya tektonik yang mengangkat dan memiringkan batuan dari posisi awalnya.

Selain struktur perlapisan, batuan di kawasan ini juga memperlihatkan banyak rekahan dan kekar. Struktur kekar terbentuk akibat tekanan dan pelepasan tegangan dalam batuan selama proses pengangkatan dan pendinginan geologi. Rekahan tersebut berperan penting dalam mempercepat pelapukan karena menjadi jalur masuk air hujan dan akar tumbuhan. Dalam jangka panjang, proses ini menghasilkan bentuk batuan yang unik, termasuk bongkah-bongkah batu terpisah dan lereng berbatu yang menjadi ciri khas lanskap Bulu Bellang.

Pada beberapa lokasi, batuan menunjukkan tingkat pelapukan yang cukup tinggi akibat iklim tropis lembap di Luwu Timur. Permukaan batu tampak berubah warna menjadi kecokelatan hingga kemerahan karena proses oksidasi mineral besi. Pelapukan kimia dan fisik yang berlangsung terus-menerus menyebabkan batuan menjadi lebih rapuh pada bagian luar, sementara inti batuannya masih relatif keras. Kondisi ini menciptakan variasi tekstur permukaan yang menarik dan sering dimanfaatkan sebagai objek pengamatan geologi lapangan.

  • Sesar merupakan rekahan atau retakan besar pada kerak bumi yang menjadi tempat terjadinya pergeseran relatif antara dua blok batuan. Berbeda dengan retakan biasa (kekar), sesar menunjukkan adanya perpindahan posisi blok batuan yang jelas. Pergeseran ini terjadi akibat gaya tektonik seperti tekanan, tarikan, atau geseran yang bekerja di dalam kerak bumi, sehingga menyebabkan lapisan batuan yang terpotong oleh sesar berpindah posisi.
  • Ciri umum sesar meliputi adanya bidang sesar (permukaan retakan tempat pergeseran terjadi), goresan sesar (slickenside), zona hancuran, atau breksi sesar. Di lokasi ini terdapat tebing dengan tinggi kurang lebih 11 meter dan panjang sekitar 20 meter. Fitur geologi yang tampak adalah patahan jenis normal fault dengan bidang sesar berarah N 135°E/66°, yang menjadi bukti nyata aktivitas tektonik di kawasan ini.
  • Nama batuan Peridotite. Berwarna abu-abu kehitaman, tersusun atas mineral piroksin, olivin dan serpentin, tekstur fanero-porfiritik. Batuan terlihat kompak dan massiv

Baca juga : literatur Geosite

Rijang Berfoliasi Pantai Kupu-kupu Singkole

Rijang Berfoliasi Pantai Kupu-kupu Singkole

Terletak pada koordinat -2,506990 LS dan 121,324947 BT di Dusun Singkole, Desa Magani, Kecamatan Nuha. Rijang (chert) adalah batuan silika (kaya SiO₂, umumnya berupa mikrokristalin kuarsa) yang biasanya terbentuk dari endapan organisme mikroskopis bersilika (seperti radiolaria atau diatom), atau dari presipitasi silika di lingkungan laut dalam.Tersingkap batuan rijang dengan foliasi yang kemungkinan merupakan massa dasar dari Melange Wasuponda. Adapun ciri-ciri rijang ini antara lain: berwarna merah, keras, dan kompak, butiran sangat halus, berfoliasi, tekstur lepidoblast, terdapat rekahan-rekahan tipis yang terisi oleh kalsit berwarna putih.

Ciri khas dari rijang berfoliasi adalah tampilan berlapis sejajar atau memiliki bidang belahan yang konsisten arahnya, Warna umumnya merah, cokelat, abu-abu, atau hitam, tergantung kandungan oksida besi dan organik, Tekstur keras, rapuh, dan konkoidal, tapi dengan foliasi, ia bisa terbelah mengikuti bidang tekan. Rijang berfoliasi berarti batuan rijang yang menunjukkan struktur foliasi, yaitu adanya bidang perlapisan atau belahan sejajar akibat tekanan tektonik. Foliasi ini muncul karena tekanan dan deformasi tektonik menyebabkan mineral silika di dalam rijang tersusun sejajar, Rijang sering ikut terlipat atau mengalami deformasi bersama dengan batuan sedimen lain (misalnya di zona melange atau kompleks ofiolit), Foliasi bisa tampak berupa bidang rekahan sejajar, pita-pita tipis, atau lembaran yang mudah terkelupas