Hipostratotipe Formasi Bone-bone

Ummul Haerah   |   May 13, 2026   |   Warisan Geologi
-2.646, 120.847
Koordinat
± 12 ha
Luas Area
Desa Bone-Bone, Kec. Kecamatan Burau
Lokasi
Kawasan Pengembangan Geopark Matano
Status

Hipostratotipe Formasi Bone-Bone merupakan salah satu situs geologi penting di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang menjadi bagian dari pengembangan Geopark Matano. Dalam ilmu stratigrafi, hipostratotipe adalah lokasi rujukan tambahan yang digunakan untuk memperjelas karakter suatu formasi batuan apabila lokasi tipe utama tidak lagi lengkap atau sulit diamati. Formasi Bone-Bone sendiri dikenal sebagai satuan batuan sedimen yang terbentuk pada lingkungan laut purba dan memiliki nilai penting dalam penelitian sejarah geologi Sulawesi bagian timur. Keberadaan singkapan formasi ini membantu para ahli memahami perkembangan cekungan sedimen dan evolusi tektonik Sulawesi sejak jutaan tahun lalu. (Pusat Survei Geologi) .

Secara geologis, Formasi Bone-Bone tersusun oleh batuan sedimen seperti batupasir, serpih, konglomerat, dan batugamping yang terbentuk melalui proses pengendapan di lingkungan laut dangkal hingga laut dalam. Berdasarkan pemetaan geologi regional Sulawesi, formasi ini diperkirakan berumur Miosen hingga Pliosen dan berkaitan erat dengan aktivitas tektonik cekungan Sulawesi Timur. Lapisan batuan yang tersingkap di kawasan Bone-Bone memperlihatkan struktur perlapisan yang jelas dan menjadi rekaman penting perubahan lingkungan purba di wilayah Luwu Timur. Singkapan tersebut juga menunjukkan adanya pengaruh pengangkatan tektonik akibat aktivitas sesar dan tumbukan lempeng yang membentuk Pulau Sulawesi. (Peta Geologi Lembar Malili, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi)

Dalam sejarah geologi Sulawesi, Formasi Bone-Bone menjadi bagian penting dari rekaman evolusi cekungan sedimentasi yang terbentuk akibat interaksi kompleks antara lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Aktivitas tumbukan lempeng menyebabkan terbentuknya cekungan laut purba yang kemudian terisi material sedimen selama jutaan tahun. Seiring proses pengangkatan kerak bumi, lapisan sedimen tersebut tersingkap di permukaan dan membentuk singkapan batuan yang kini dapat diamati di kawasan Bone-Bone. Keberadaan hipostratotipe ini sangat penting bagi penelitian stratigrafi karena menjadi acuan ilmiah dalam memahami hubungan antarformasi batuan di Sulawesi Timur. (Pusat Survei Geologi)

Selain memiliki nilai ilmiah, kawasan Formasi Bone-Bone juga berkaitan dengan sejarah lingkungan dan perkembangan bentang alam Kabupaten Luwu Timur. Material sedimen yang membentuk formasi ini memengaruhi karakter tanah, morfologi perbukitan, serta pola aliran sungai di sekitarnya. Masyarakat lokal sejak dahulu memanfaatkan kawasan ini sebagai lahan pertanian dan jalur penghubung antarwilayah karena kondisi topografinya relatif lebih landai dibanding kawasan ultramafik di sekitar Danau Matano. Keberadaan singkapan batuan sedimen menjadi sarana edukasi alam yang penting dalam pengembangan wisata berbasis geologi dan lingkungan di Luwu Timur.

Pada perkembangan saat ini, Hipostratotipe Formasi Bone-Bone menjadi salah satu lokasi penting dalam inventarisasi geoheritage Kabupaten Luwu Timur. Kawasan ini memiliki potensi besar sebagai lokasi penelitian geologi, edukasi stratigrafi, dan wisata ilmiah karena memperlihatkan singkapan sedimen laut purba yang masih terjaga dengan baik. Pemerintah daerah bersama tim Geopark Matano terus mendorong pelestarian situs ini sebagai bagian dari warisan geologi nasional. Dengan pengelolaan yang tepat, Formasi Bone-Bone Kab. Luwu Timur dapat menjadi laboratorium alam penting untuk mempelajari sejarah pembentukan Sulawesi dan evolusi lingkungan purba Indonesia bagian timur.

Aksesibilitas

Perjalanan dimulai dari Kota Malili menuju Kecamatan Burau melalui jalan poros Trans Sulawesi. Dari pusat Kecamatan Burau, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Bone-Bone menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Lokasi singkapan formasi batuan berada tidak jauh dari jalur utama sehingga relatif mudah dijangkau. Kondisi jalan utama menuju kawasan cukup baik karena merupakan jalur penghubung antarwilayah di Luwu Timur. Dari titik tertentu, pengunjung dapat berjalan kaki menuju area singkapan batuan sedimen dan perlapisan formasi. Medan menuju lokasi berupa perbukitan ringan dan area singkapan batuan sehingga tetap memerlukan kehati-hatian saat melakukan pengamatan lapangan. Waktu terbaik berkunjung adalah musim kemarau agar kondisi singkapan lebih jelas dan akses jalan lebih aman. Kawasan ini sering dijadikan lokasi penelitian lapangan bagi geolog dan mahasiswa kebumian yang mempelajari stratigrafi Sulawesi Timur.