Napal Formasi Bone-bone
Struktur batuan pada napal menunjukkan ciri khas berupa perlapisan tipis yang terbentuk akibat proses pengendapan material halus secara bertahap di lingkungan perairan tenang. Warna batuan yang abu-abu menandakan kandungan lempung dan material karbonatan yang cukup dominan. Saat mengalami pelapukan, napal mudah berubah menjadi lempung lunak karena mineral penyusunnya bersifat halus dan mudah menyerap air. Tekstur batuan didominasi ukuran butir lempung hingga pasir halus, sehingga permukaan batuan terasa relatif lembut dan mudah hancur dibanding batuan sedimen yang lebih keras.
Secara komposisi, napal tersusun atas campuran material karbonatan seperti kalsit dengan mineral lempung, sehingga memiliki sifat fisik yang unik. Kandungan karbonatan membantu membentuk lapisan batuan, sedangkan material lempung menyebabkan batuan memiliki daya serap air cukup tinggi. Batuan ini umumnya berasosiasi dengan batupasir, menandakan proses sedimentasi terjadi secara bergantian antara endapan halus dan endapan pasir dalam lingkungan laut dangkal atau cekungan sedimen. Kehadiran hubungan dengan batupasir juga menunjukkan adanya perubahan energi arus saat proses pengendapan berlangsung.
Pada beberapa bagian, napal memperlihatkan rekahan lokal yang terbentuk akibat deformasi tektonik. Rekahan ini muncul karena tekanan dan pergeseran kerak bumi yang memengaruhi lapisan batuan setelah proses pengendapan selesai. Walaupun memiliki porositas tinggi karena banyak rongga kecil di antara butirannya, batuan ini mempunyai permeabilitas rendah. Artinya, air dapat tersimpan di dalam batuan tetapi sulit mengalir dengan cepat karena ukuran pori saling terhubung sangat kecil. Sifat tersebut menjadikan napal sering berperan sebagai lapisan penahan air dalam sistem geologi bawah permukaan.
- Warna: Abu-abu
- Struktur utama: Berlapis tipis
- Ukuran butir: Lempung – pasir halus
- Komposisi: Campuran karbonatan dan lempung
- Pelapukan: Mudah menjadi lempung
- Ciri tektonik: Ada rekahan lokal
- Asosiasi batuan: Bersama batupasir
- Porositas: Tinggi (banyak rongga)
- Permeabilitas: Rendah (air sulit mengalir)
- Lingkungan pembentukan: Perairan tenang/laut dangkal


